Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Ngentot Anal Sex di Pertemuan Lanjutan

Cerita Ngentot Anal Sex di Pertemuan Lanjutan

 Tradingan.com - Selepas Makan Siang, telepon genggamku bergetar hebat, menampilkan nomor +62266xx di layarnya. 0266, dari kota manakah itu? Pikirku dalam hati. Dengan hati-hati kutekan tombol “Answer”, lalu terdengar suara halus dari ujung sebelah sana.

“.. Kang, ini Euis (bukan nama asli). Masih ingat? ..”.
Jantungku seakan berhenti mendengar nama itu. Dari mana dia tahu nomor telepon genggamku ini? Segera berkelebat bayangan dalam pikiranku, bagaimana ia kuperawani satu minggu yang lalu, di sebuah penginapan di Selabintana. Mukanya yang manis, tubuhnya yang mungil dan seksi, dan matanya yang menatapku lekat-lekat sambil berlinang air mata saat kegadisannya kurenggut malam itu.


“.. Ee, tentu masih dong. Apa kabar? Gimana juga khabar Nyai? ..”
jawabku dengan suara yang kubuat setenang mungkin.
“.. Baik Kang, kok nanyain Nyai terus sih? ..”
lanjutnya dengan nada suara yang kurang senang.
“.. Kang, kapan mampir ke sini lagi, Euis kangen ingin ketemu lagi dengan akang ..” lanjutnya. Aku tersentak menyadari akan keadaan yang sulit dan serba salah, yang akan kuhadapi selanjutnya. Kangen? Ini bahaya, ini tidak boleh terjadi. Aku selalu berusaha untuk tidak meninggalkan kesan mendalam dalam setiap petualangan-petualangan nakalku. Aku tidak ingin terlibat lebih lanjut dengan gadis dan wanita yang pernah berhubungan denganku. Tubuh dan nafsuku mungkin saja kuumbar dan dimiliki sesaat oleh beberapa gadis dan wanita, tapi hati dan cintaku hanya untuk istriku seorang. Aku memang egois, seperti kaum laki-laki pada umumnya. Ingin kuputuskan komunikasi ini, tapi tidak tega. Bagaimanapun, gadisku ini sudah berkorban dengan menyerahkan miliknya yang sangat berharga padaku. Aku masih punya sedikit rasa untuk tidak “mencampakkan” dia begitu saja. Mungkin saja kata kangen itu hanyalah selubung dari maksud-maksud lain dibaliknya, kebutuhan akan materi misalnya. Mungkin saja lembaran yang kusisipkan ke dalam tas sekolahnya saat itu dianggap belum cukup untuk menebus apa yang telah ia berikan padaku. Dan beberapa kata mungkin lain yang muncul bergantian dalam pikiranku. Aku sampaikan padanya bahwa nanti sore aku akan berangkat ke ibu kota melalui kotanya, untuk menghindari kemacetan di jalur Puncak. Aku sampaikan juga kemungkinan untuk bisa bertemu dengannya, setelah sampai ke kotanya nanti malam. Euis memberiku sebuah nomor yang dapat kuhubungi, nomor yang dikeluarkan oleh salah satu operator selular di negeri ini.

Selepas jam kantor dan sedikit persiapan di rumah, akupun mengarahkan mobil kecil biruku meninggalkan kota tempat tinggalku. Kekuatan dan kecepatan mesinnya yang dahsyat tidak kumanfaatkan kali ini. Aku ingin santai sambil menikmati perjalanan. Mataku yang terlatih melirik kekiri dan kekanan sepanjang perjalanan, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa membawaku ke petualangan dan pengalaman lain yang mendebarkan. Kondisi lalu lintas yang lancar membuat perjalananku kali ini tidak menemui hambatan yang berarti. Saat adzan Magrib berkumandang, aku telah sampai di kota Cianjur untuk sejenak beristirahat sambil menikmati minuman ringan yang dingin. Aku masih menimbang-nimbang untuk menentukan arah mana yang akan kuambil, lewat Puncak atau Sukabumi. Ingatanku pada Euis menjadi salah satu alasan hingga aku memilih jalur alternatif kedua. Siapa tau aku bisa melanjutkan petualangan dengannya lagi. Nafsuku bangkit seketika, membuat kemaluanku membesar dan mengeras. Cukup menyakitkan di balik celana Jeansku yang cukup ketat. Kuambil minuman energy dari lemari es sebelum kutinggalkan toko itu. Siapa tau aku membutuhkan energy “lebih” malam ini. Dengan kecepatan penuh, kuarahkan mobilku menuju kota Sukabumi.

Beberapa kilometer menjelang masuk kota, kucari nama Euis dari dalam Address Book telepon genggamku, lalu kuhubungi. Kamipun sepakat untuk bertemu di toko “Y..”, salah satu swalayan besar dan terkenal yang ada di kota itu. Suaranya yang halus dan ceria membuatku tidak sabar untuk segera menemuinya. Kutekan pedal gas mobilku dalam-dalam, membuatnya berlari dengan kecepatan sangat tinggi. Sampai di tujuan, kuparkir mobilku di tempat yang mudah untuk keluar, lalu akupun masuk ke dalam toko yang besar dan sangat ramai itu. Diantara keramaian orang yang akan berbelanja atau sekedar berjalan-jalan, kulihat Euis berdiri sendirian sambil membaca tabloid remaja. Malam itu Euis mengenakan kaos ketat berwarna merah dipadukan dengan celana Jeans biru, serasi dengan kulitnya yang tidak terlalu putih. Lekuk tubuhnya yang ramping dan seksi semakin jelas terlihat. Ia membawa Travelling Bag yang tidak terlalu besar, yang digeletakkan di lantai sebelah kakinya. Kuhampiri dia lalu kutegur. Lanjut baca!


Kisah Sex Anal Heru di Samping Suami Ku

Kisah Sex Anal Heru di Samping Suami Ku

  Iklans.com - Heru, 32 th, adalah teman sekantor suamiku yang sebaya dengannya sedangkan aku berumur 28 th. Mereka sering bermain tenis bersama, entah mengapa setiap Heru datang kerumah menjemput suamiku ia selalu menyapaku dengan senyumnya yang khas, sorotan matanya yang dalam selalu memandangi diriku sedemikian rupa apalagi sewaktu aku memakai daster yang agak menerawang tatapannya seakan menembus menjelajahi seluruh tubuhku.

Aku benar benar dibuat risih oleh perlakuannya, sejujurnya aku merasakansesuatu yang aneh pada diriku, walaupun aku telah menikah 2 tahun yang lalu dengan suamiku, aku merasakan ada suatu getaran dilubuk hatiku ditatap sedemikian rupa oleh Heru. Suatu hari suamiku pergi keluar kota selama 4 hari. Pas di hari minggu Heru datang kerumah maksud hati ingin mengajak suamiku bermain tenis, pada waktu itu aku sedang olahraga dirumah dengan memakai hot pant ketat dan kaos diatas perut.

Ketika kubuka pintu untuknya ia terpana melihat liku liku tubuhku yang seksi tercetak jelas di kaos dan celana pendekku yang serba ketat itu. Darahku berdesir merasakan tatapannya yang tajam itu. Kukatakan padanya suamiku keluar kota sejak 2 hari lalu, dia hanya diam terpaku dengan senyumannya yang khas tidak terlihat adanya kekecewaan diraut mukanya, tiba-tiba ia berkata “..Hesty mau tidak gantiin suamimu, main tenis dengan saya..” Giliran aku yang terpana selama menikah belum pernah aku pergi keluar dengan laki laki selain suamiku tetapi terus terang aku senang mendengar ajakannya, dimataku Heru merupakan figure yang cukup ‘gentleman’.

Sementara aku masih ragu-ragu tiba tiba dengan yakin ia berkata “..Cepet ganti pakaian aku tunggu disini..” Entah apa yang mendorongku untuk menerima ajakannya aku langsung mengangguk sambil berlari kekamarku untuk mengganti pakaian. Dikamar Aku termangu hatiku dagdigdug seperti anak SMU sedang berpacaran lalu aku melihat diriku dicermin kupilih baju baju tenisku lalu ketemukan rok tenis putihku yang supermini lalu kupakai dengan blous ‘you can see’ setelah itu kupakai lagi sweater, wouw.. cukup seksi juga aku ini.., setelah itu aku pakai sepatu olahragaku lalu cepat cepat aku temui Heru didepan pintu “..Ayo Her aku sudah siap..” Heru hanya melongo melihat pakaianku. Jakunnya terlihat naik turun.

Singkat kata aku bermain tenis dengannya dengan penuh ceria, kukejar bola yang dipukulnya, rok miniku berkibar, tanpa sungkan aku biarkan matanya menatap celana dalamku, ada perasaan bangga dan gairah setiap matanya menatap pantatku yang padat bulat ini.

Saking hotnya aku mengejar bola tanpa kuduga aku jatuh terkilir, Heru menghampiriku lalu mengajakku pulang. Setiba di rumah, kuajak Heru untuk mampir dan ia menerimanya dengan senang hati. Heru memapahku sampai ke kamar, lalu membantuku duduk di ranjang. Dengan manja kuminta ia mengambilkan aku minuman di dapur, Heru mengambilkan minuman dan kembali ke kamar mendapatkan aku telah melepas sweater dan sedang memijat betisku sendiri. Ia agak tersentak melihatku, karena aku telah menanggalkan sweaterku sekarang tinggal memakai blous “you can see” longgar yang membuat ketiak dan buah dadaku yang putih mulus itu mengintip nakal, posisi kakiku juga menarik rokmini olahragaku hingga pahaku yang juga putih mulus itu terbuka untuk menggoda matanya.

Tampak sekali ia menahan diri dan mengalihkan pandangan saat memberikan minuman kepadaku. Memang “gentleman” pria ini. penampilannya agak kaku tetapi disertai sikap yang lembut, kombinasi yang tak kudapatkan dari suamiku, ditambah berbagai macam kecocokan di antara kami. Mungkin inilah yang mendorongku untuk melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang wanita yang sudah bersuami. Aku menggeser posisiku mendekatinya, lalu kucium pipinya sebagai ucapan terimakasihku. Heru terkejut, namun tak berusaha menghindar bahkan ia menggerakan wajahnya sehingga bibirku beradu dengan bibirnya. Kewanitaanku bangkit walaupun aku tahu ini adalah salah tetapi tanpa kusadari ia mencium bibirku beberapa saat sebelum akhirnya aku merespon dengan hisapan lembut pada bibir bawahnya yang basah.

Kami saling menghisap bibir beberapa saat sampai akhirnya aku yang lebih dulu melepas ciuman hangat kami. “Her..” kataku ragu. Kami saling menatap beberapa saat. Komunikasi tanpa kata-kata akhirnya memberijawaban dan keputusan yang sama dalam hati kami, lalu hampir berbarengan, wajah kami sama-sama maju dan kembali saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan Heru saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah.

Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan Heru mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Entah bagaimana pria bukan suamiku ini bisa menyentuh ragaku selembut ini, semakin kupejamkan mataku semakin melayang perasaanku, dan menikmati kelembutan yang memancing gairah ini. Kembali Heru yang melepas bibirnya dari bibirku. Namun kali ini, dengan lembut namun tegas, ia mendorong tubuhku sambil satu tangannya masih terus membelai pahaku, membuat kedua tanganku yang menahanku pada posisi duduk tak kuasa melawan dan akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku. baca selengkapnya!


Kisah Aku Ngentot Rere dan Adiknya

Kisah Aku Ngentot Rere dan Adiknya

  Aopok.com - Waktu itu sudah malam, sekitar pukul 9. Saya dan Mirna baru saja menyelesaikan babak ketiga pertandingan antar jenis kelamin kami yang sudah sekian kali kami lakukan. Kami ada di rumah Mirna, suami Mirna, Andre, sedang tidak berada di rumah, dia pergi tugas luar kota lagi. Sementara istri saya ada di rumah, saya punya banyak alasan kalau dia bertanya macam-macam.

“Mas Vito, aku kok kayaknya nggak pernah bosen ya ‘ngewe’ sama kamu…” kata Mirna.

“Lha, memangnya kalo sama Andre, bosen..? Kan dia suamimu,” jawab saya agak gr.

“Bukannya gitu. Kalo sama Mas Andre gayanya itu-itu saja, dan lagi kontolnya Mas Andre kan nggak sebesar punya Mas Vito,” jawab Mirna jujur sambil mengurut batang kemaluan saya yang kembali mengeras.

“Ndak boleh gitu lho Mir. Andre itu kan suamimu, dia baik lagi. Tapi, masa bodo lah, yang penting memek istrinya enak banget. Ya sudah ‘ngentot’ lagi yuk, mana toketmu, sini, aku mau ‘nenen’..!”

Ketika kami mau mulai babak keempat, Vina, anak Mirna yang jadi sering melihat maminya di ‘acak-acak’, masuk ke kamar.

“Mi, masih main kuda-kudaan ya..? ” tanyanya polos.

“Iya, baru mau main lagi, kenapa Vin..? kata Mirna.

“Vina mau bobo, tapi Vina takut, temenin Vina ya Mi, Om Vito main kuda-kudaanya di kamar Vina aja ya..!” pintanya penuh harap.

Ya sudah, akhirnya saya dan Mirna pindah arena ke kamarnya Vina. Sambil masih bertelanjang bulat, kami berusaha menina-bobokan Vina yang katanya tidak kangen sama papinya, dia malah menganggap saya papi kandungnya.

Baru sekitar 10 menit si Vina tertidur dan 3 menit si Mirna menghisap batang kemaluan saya, telephone di kamar Mirna berdering.

“Mas, aku ngangkat telephone dulu ya, kali aja dari Mas Andre.” kata Mirna.

“Ya, jangan lama-lama..” jawab saya.

Setelah hampir 5 menit, Mirna balik lagi ke kamar dengan wajah bingung.

“Mas, adikku mau kesini. Dia sudah ada di depan komplek. Gimana nih..?” kata Mirna.

“Siapa..? Si Rere..? Dia bareng suaminya nggak..?” tanya saya berusaha tidak panik.

“Nggak sih, kan dia lagi pisah ranjang sama Gery. Sudah 4 bulan ini.” jawab Mirna.

“Ya sudah, kalo dia kesini, ndak apa-apa. Bilang aja aku lagi nemenin kalian. Apa susahnya sih?”

Tidak lama kemudian Rere datang. Dia adalah wanita cantik berusia sekitar 25 tahun, dengan ukuran dada sekitar 34B (hampir sama dengan kakaknya), kulit putih bersih dan hidung yang bangir. Malam itu dia mengenakan ‘Tank Top’ warna biru ditutup dengan Cardigan hitam dan celana Capri (ketat, sedengkul) warna putih.

“Malam Mbak, Eh.., ada siapa nih..?” kata Rere.

“Ini Mas Vito, tetanggaku. Dia datang kesini mau nemuin Mas Andre, tapi nggak ketemu.” Mirna menjawab. Baca selengkapnya!


Cerita Sex Foursome 3 Lawan 1 dalam Semalam

Cerita Sex Foursome 3 Lawan 1 dalam Semalam

  Tradingan.com -  Namaku Dedi, umur 24 tahun. Aku seorang gigolo di kota Bandung. Aku akan menceritakan pengalamanku melayani sekaligus 4 pelangganku dalam semalam. Aku menggeluti profesi ini sudah 4 tahun, dan sejak itu aku mempunyai pelanggan tetap namanya Tante Mira (bukan nama asli), dia seorang janda tidak mempunyai anak, tinggal di Bandung, orangnya cantik, putih, payudaranya besar walaupun sudah kendor sedikit, dia keturunan tionghoa. Dia seorang yang kaya, memiliki beberapa perusahaan di Bandung dan Jakarta, dan memeiliki saham di sebuah hotel berbintang di Bandung.

Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP Tante Mira.

“Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya.

“Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?” kataku.

“Kamu nanti sore ada acara nggak?” katanya.

“Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?” tanyaku.

“Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?” katanya.

“Bisa tante.. aku siap kok?” jawabku.

“Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu”, katanya.

“Oke.. Tante”, balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi.

Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Mira akan membawa teman relasinya. Selang beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku. Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh pintu rumah dan jendela.

Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan. Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya besar, dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Meri 39 tahun, payudaranya juga besar, kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke villanya di kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.

Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku.

Selang beberapa menit obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya mulai nakal meraba-raba paha dan selangkanganku. Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa, meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu. Tante Lisa langsung bicara kepadaku, “Wow.. Ded, kontol kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu..” katanya. Baca selengkapnya!


Viral Aku Ketahuan Masuk Anal Cewek Viral

Viral Aku Ketahuan Masuk Anal Cewek Viral

 Tradingan.com - Entah mengapa aku menjadi gagu saat membuka email. Sejak cerita berjudul DOMPET, banyak teman yang mengirimku email. Aku jadi serba salah saat harus membalas email yang memang beragam inginnya. Ada yang sekedar memberikan komentar, yang mau kenalan, yang minta no HP, ada yang ingin ketemuan, bahkan tidak sedikit yang menanyakan ciri-ciri fisikku, ukuran penisku, gayaku bercinta dengan istriku, dan lain-lain.


Aku mungkin kaget dengan keadaan yang tidak kubayangkan sebelumnya, karena memang alasanku semula mengirim cerita, hanya ingin agar traumaku yang sejak kecil kupendam, bisa sedikit kubagi. Tidak mungkin aku cerita tentang apa yang kualami kepada sembarang orang, bahkan pada sahabat terdekatku sekalipun, karena menurutku, dengan membuka aibku kepada seseorang, berarti aku sudah menggadaikan hidupku padanya, dan aku tidak mau itu. Pikirku, dengan bercerita di dunia maya, maka aku bisa seekspresif mungkin. Aku tidak harus takut akan dihujat, dihina, dicemooh, bahkan dijauhi, karena toh tidak ada yang tahu sedikitpun tentang aku.

Aku bingung saat harus menjawab email yang intinya mengajak ketemuan. Di satu sisi, tidak mau mengecewakan yang telah mencurahkan energinya untuk mengirimku email, tetapi aku belum siap untuk membuka diri. Terlalu banyak yang harus dipertaruhkan jika sampai ada yang tahu. Akhirnya aku hanya bisa sedikit membatasi diri. Namun kejadian selanjutnya sungguh membuatku shock berat dan tidak kubayangkan sebelumnya.

Jika biasanya langsung kuhapus semua file begitu yakin ceritaku terkirim, namun setelah mengirim “Antara Dua Rasa”, tidak kuhapus karena akan kukirim ke teman-teman yang tidak sedikit minta kiriman ceritaku. Namun ternyata aku masih manusia, yang jauh dari alpa.

Setelah dari warnet, hari itu aku ke kampus. Kuliah ekstensi-Filsafat, yang dulu menjadi pilihan keduaku ketika lulus SMA, setelah Teknik Sipil, akhirnya bisa kuambil.

“Hafidz..! Naah, kebetulan ketemu. Tinggal kamu yang belum mengumpulkan tugas syarat ujian. Tak tunggu sampai sore ini yaa!”

Tepukan di bahuku mengejutkanku di tengah sibuknya aku mengisi segala persyaratan ujian. Aahh, aab Saddam (begitu biasa saya menyebutnya karena selain asalnya dari Irak, kumisnya yang melintang menambah tepat julukan itu).

“Iyaa.. Pak, maaf. Banyak kerjaan. Nanti kukirim tugasnya!” Lanjut baca!


Viral Para Taruna Ngentot Anal Gadis Lonte

Viral Para Taruna Ngentot Anal Gadis Lonte

 Aopok.com - Aku mempunyai gank (perkumpulan) di kampus. Mereka sering berkumpul di tempat kosku hanya untuk mengobrol atau mengerjakan tugas. Salah satu dari mereka bernama Aji, dia anak asli kota Y*** (edited), tetapi rumahnya jauh, sehingga jarang sekali pulang dan sering tidur di tempatku. Aji orangnya ganteng dan mempunyai badan bagus, apalagi kalau dia memakai celana jeans yang ketat, pantatnya yang berisi dan tonjolan di antara kedua pahanya membuat hatiku berdebar-debar.


Seperti biasanya, dia memakai jeans ketat dan baju ketat. Badannya yang bagus terlihat jelas, apalagi tonjolan di antara kedua pahanya. Malam itu dia tidak pulang karena kecapaian sehabis mengerjakan tugas. Kami sama-sama tertidur pulas, namun tengah malam aku terbangun karena ingin pipis. Setelah dari kamar mandi, tanpa sengaja mataku tertuju pada tonjolan di antara kedua pahanya yang kelihatan besar. Aku jadi tidak bisa tidur, dengan hati-hati kuletakkan tanganku di atas tonjolan itu. Kuusap pelan-pelan karena takut dia terbangun. Aku belum berani bertindak lebih jauh lagi.

Dua hari setelah itu, dia tidur di tempatku lagi. Kupikir ini kesempatanku untuk lebih mengetahui, karena sebelumnya aku hanya mengelus dari luar saja. Setelah dia tidur, aku tidak bisa tidur dan kira-kira dia sudah pulas, perlahan kuraba lagi tonjolan itu dari luar. Aku merasakan tonjolan itu semakin membesar, aku semakin penasaran, dengan hati-hati kubuka resleting celananya. Kususupkan jari-jariku, aku lebih merasakan denyutan rudalnya dibandingkan dengan yang sebelumnya. Rupanya dia sudah terangsang. Aku semakin berani, perlahan kubuka CD-nya dan langsung saja rudalnya melesat keluar. Lama kupandangi batang kejantanan yang besar dan panjangnya 16 cm itu. Dengan perlahan dan hati-hati, kuusap ujung rudalnya karena takut dia nanti terbangun. Lama sekai kuusap-usap kepala batang kemaluannya, tiba-tiba dia terbangun karean kaget.

“Fi, lagi ngapain kamu?” tanyanya sambil menutupi batang kejantanannya dengan selimut.
Aku kaget sekali, “Ji, maafkan aku. Tolong ya jangan bilang siapa-siapa mengenai hal ini!” pintaku.
“Baiklah aku ngga akan ngomong-ngomong, tapi ada syaratnya!” katanya.
“Apa?” tanyaku.
Dia mendekat dan berbisik di telingaku, “Puaskan aku!”
Aku terkejut mendengarnya, “Apa?” tanyaku.
“Ya, buka bajumu dan puaskan aku sekarang!” katanya sambil melepas seluruh bajunya.
Tanpa menunggu perintahnya lagi, aku segera melepas bajuku dan langsung menciumnya.
Dia membalas ciumanku dan berbisik, “Lain kali ngomong dong, jangan seperti maling.”
Aku hanya tersenyum saja.

Kami langsung mengambil posisi 69. Kulumat dan kuhisap batang kemaluannya yang besar itu. Dia melakukan hal yang sama pada senjata kejantananku. Lumatan dan hisapannya enak juga. Entah berapa lama hal itu terjadi sampai akhirnya aku merasakan cairan hangat melewati kerongkonganku. Nikmat sekali. Tidak berapa lama, aku juga mencapai puncaknya. Lanjut baca!


Foto Bokep, Foto Bugil dan Telanjang

Foto Bokep, Foto Bugil dan Telanjang

 Masyarakat diimbau agar tidak secara sengaja menyebarkan foto/video (dokumen) asusila (tanpa busana, dll) yang melanggar aturan dan norma yang berlaku. Karena penyebar konten asusila di media bisa kena hukuman. 



Pasal 27 ayat 1 UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan dapat dikenai hukuman.

Apa hukumannya? Pasal 45 UU ITE menyatakan, setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pun yang terkait dengan segala hal yang berhubungan dengan memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan,  memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi seperti tercantum dalam Pasal 4 ayat (1) UU Nomor 44/2008 Tentang Pornografi diancama hukuman pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250 juta dan paling banyak Rp6 miliar (diatur dalam Pasal 29).


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia